Waktu tahun 2002, kakak ipar pernah bercerita ke saya
tentang terapi musik ibu hamil di Rumah Sakit Harapan Kita (RSHK) yang ditujukan
untuk ibu hamil. Ketika kehamilan memasuki usia 7 bulan, saya pun
mengecek ulang informasi tersebut karena saya tertarik untuk ikut.
Senangnya ketika dikasih tahu bahwa perogram tersebut masih ada.
Ternyata memang sudah menjadi bagian dari parent education program RSHK.
Selain terapi musik, parent education juga meliputi konsultasi
kehamilan (dilihat dari aspek psikologi), senam hamil (yang harus
dihadiri suami juga) dan konsultasi tumbuh kembang anak.
Pada hari pertama kunjungan terapi musik, saya dan suami
diwawancara oleh seorang psikolog tentang pernikahan, kehamilan dan
komunikasi dengan janin. Tahap ini harus dilakukan bersama-sama dengan
suami agar suami memahami aspek psikologis ibu dan janin, supaya dapat
memberi support dan membuat keduanya merasa nyaman. Setelah wawancara,
saya pun masuk ke ruangan terapi musik untuk mulai melakukan terapi.
Metode terapi musik ini dilakukan dalam grup, paling banyak
sekitar delapan orang. Di dalam ruangan gelap, instruktur (yang ternyata
juga psikolog yang sama ketika mewawancara saya) mulai membunyikan
musik yang menenangkan, sama seperti musik untuk meditasi atau yoga.
Kami, para ibu hamil, merebahkan tubuh di atas bean bag yang
sudah disediakan dan diajarkan konsentrasi untuk berkomunikasi dengan
janin. Bagi saya yang senang curhat dan ngobrol, saya sangat menikmati
saat-saat berkomunikasi dengan janin lewat cara ini, karena semakin kita
fokus, semakin ada reaksi yang ditunjukkan janin lewat gerakan atau
tendangan-tendangan di perut saya.
Ada berbagai cara untuk berkonsentrasi dengan janin dengan
dukungan musik, antara lain dengan mengacungkan ibu jari kedua tangan
dan membentuk angka delapan di depan wajah kita. Ada juga metode tuning
(berdengung) dan latihan pernafasan yang berguna untuk menahan rasa
sakit dan kontraksi menjelang persalinan. Selesai melakukan semua itu,
kami pun disuruh tidur oleh sang instruktur agar bisa mendapatkan
istirahat yang berkualitas.
Bagi saya terapi ini sangat menyenangkan karena membantu
saya untuk bisa tetap relaks dengan kehamilan saya. Mengingat kehamilan
ini adalah pengalaman pertama saya seumur hidup, saya sering merasa
lelah dan nervous. Khawatir ada kekurangan dengan kehamilan
saya. Terapi musik ibu hamil membantu saya mengatur emosi dan membuat saya lebih
tenang serta membantu membangun komunikasi dengan janin lewat musik yang
menenangkan. Dan yang lebih penting lagi, saya bisa memperoleh tidur
yang jauh lebih berkualitas daripada di rumah.
Ketika kehamilan memasuki trimester terakhir, saya
dianjurkan untuk melakukan terapi musik setiap hari. Namun karena saya
bekerja dan belum mulai cuti sampai menjelang melahirkan, saya hanya
bisa melakukan terapi ini setiap hari Sabtu. Saya dan suami percaya,
kita dapat melakukan terapi musik di rumah jika sudah mulai menguasai
metodenya. Menjelang melahirkan, saya sering sekali berkomunikasi dengan
calon bayi saya dan mengajaknya bekerja sama dalam berbagai kegiatan.
Yang paling utama, saya selalu mengajaknya bekerja sama dalam proses
persalinan sehingga kami berdua melalui masa persalinan dengan lancar
dan kami berdua bisa segera bertatap muka :)
Terapi musik bisa dilakukan oleh siapa
saja karena fokus dari kegiatan ini adalah berkonsentrasi pada diri
sendiri. Terapi musik juga bisa dilakukan sejak awal kehamilan atau oleh
para perempuan yang senang dalam terapi untuk memperoleh anak. Selama
saya menjalani terapi ini ada beberapa wanita yang juga ikut dalam
kelas agar bisa lebih berkonsentrasi dengan dirinya dan segera
mempunyai momongan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar